HARUSKAH MENERIMA HERD IMMUNITY DAN BERDAMAI DENGAN COVID 19?

Mata netizen sedang tertuju mengejar detail Herd Immunity dari berbagai sumber, khususnya perihal penerapan "herd immnunity" alias "kekebalan Massal", Kita berhak tahu gambaran dan fakta nya yang mengerikan jika menyangkut kematian sebelum ajal.
hidup normal versi baru
hidup normal versi baru

Saya, terutama merasa sangat cemas, terutama beberapa bulan yang lalu pada saat membaca bagaimana Inggris dan Belanda sedang mempertimbangkan alternatif ketiga yang terkenal dengan sebutan 'Kekebalan Massal' tersebut, di samping itu saya juga terus mengikuti bagaimana para Ilmuwan menentang alternatif ini. Lalu apakah sebenarnya kekebalan massal itu?
Yakni Pendekatan 'herd immunity' sudah disampaikan oleh Sir Patrick Vallance, penasehat utama bidang sains pemerintah Inggris. Dalam wawancara tanggal 13 Maret lalu, Sir Patrick mengatakan salah satu hal penting yang dapat di lakukan oleh kerajaan Inggris adalah membangun kekebalan massal.

Menurut Sir Patrik, dengan banyak warga yang kebal terhadap virus tersebut, warga tidak bisa menyebarkan virus tersebut lagi. Tujuannya adalah memperlambat penyebaran infeksi semaksimal mungkin, dan membangun semacam kekebalan di kalangan masyarakat," kata Anders Tegnell, kepala bidang penyakit menular Swedia. Dan untuk mencapai hal tersebut satu satunya cara adalah membiarkan warganya terinfeksi virus corona!

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte mengatakan 'lockdown' mungkin tidak akan efektif di negaranya. Dia mengatakan Belanda akan melakukan kontrol terhadap penyebaran COVID-19 di kalangan warga yang paling beresiko bila terkena virus paling mematikan ini.

Kekebalan massal artinya sebagian penduduk atau: lebih separuh populasi penduduk akan terkena sebuah penyakit dan kemudian mereka sembuh dan menjadi kebal karenanya. Dengan itu penyebaran menjadi berkurang karena semakin sedikit mereka yang terinfeksi oleh virus tersebut. Benarkah demikian teorinya? Maafkan jikalau saya salah.

Ini dianggap sebagai salah satu cara memerangi pademik, selain dengan memisahkan orang per orang, melakukan testing dan melacak pergerakan orang dan juga membuat vaksin.

Para sejarawan (bukan ilmuwan) mengatakan gelombang kedua pandemik flu di Spanyol di tahun 1918 menimbulkan korban paling besar, karena ketika di gelombang pertama hanya sedikit orang yang memiliki kekebalan.

Untungnya kedua negara yang saya sebutkan diatas jauh jauh hari karena melihat fakta itu telah menepis dan mencabut ide gila tersebut.

ILMUWAN MENGECAM TEORI TERSEBUT

Selain Cina, Jepang juga tampak tidak 'setuju' dengan teori ini yang menurut Ilmuwan sangat berbahaya dan dapat mengorbankan populasi manusia secara massal. Para Ilmuwan Jepang menyatakan tidak ada bukti bahwa korban yang terinfeksi dan kemudian sembuh menjadi kebal terhadap penyakit corona. Pihak berwenang Jepang mengatakan tanggal 16 Maret lalu bahwa seorang pria yang sudah dites positif COVID-19 sebelumnya, kemudian terjangkit lagi beberapa minggu kemudian. Oke tarohlah pengujiannya itu salah.

Akan tetapi seorang pria yang terkena virus di kapal pesiar Diamond Princess yang telah dinyatakan sembuh dilaporkan terkena lagi beberapa minggu kemudian. Diego Silva, dosen ilmu bioetika di University of Sydney bahkan telah mengatakan sampai sekarang masih banyak yang belum mengetahui mengenai virus tersebut dan bagaimana reaksi tubuh kita. 

Bagaimana jika virus ini ternyata memiliki fitur dan kemampuan beradaptasi jauh melebihi kemampuan daya tahan manusia, bagaimana mungkin menjadikan begitu banyak manusia sebagai kelinci percobaan?

FITUR BARU VIRUS CORONA YANG BARU DI KETAHUI

Ada penemuan baru pada orang orang yang telah terinfeksi, tanpa mereka menyadarinya yakni walaupun mereka tidak merasa telah terinfeksi namun mereka kehilangan indera penciuman dan indera pengecapan.

Lalu pada penelitian orang orang yang telah sembuh di dapatkan bahwa fungsi paru paru mereka melemah dan menghilang sebagian. Kasus ini masih dalam penelitian lebih lanjut.

MENGAPA HARUS MEMILIH ALTERNATIF KEKEBALAN MASSAL?

Karena Eropa pasti berbeda dengan Cina. Cina dapat melakukan lock down dengan keras dan tegas. Orang orang cina mematuhi pemimpin mereka. Lock down di Cina sangat berbeda dengan Lock down di Italia. Di Italia kendaraan dan sebagian orang orang tetap berkeliaran demikian fakta yang membuat 300 orang tenaga medis Cina di Italia menjadi kebingungan. Apa yang terjadi di Italia adalah gambaran apa yang akan terjadi di Eropa pada saat mengatasi virus corona.

Dan Cina sukses. Dari penyebar malapetaka menjadi penyelamat dunia. Tampak Italia menjadi sangat buruk. Dan seluruh Eropa kini di landa kecemasan, itulah sebabnya memilih alternatif 'kekebalan massal' tampak masuk akal.

Namun Cina mengecam dan mengatakan Ide tersebut sebagai ujud pelaksanaan Darwinisme yang sangat mengerikan terhadap umat manusia. Mengapa harus memberikan risiko dan perjudian maut kepada manusia? Bukankah cara lockdown Cina terbukti ampuh mengatasi virus corona? Mengapa mereka terlihat begitu putus asa. 

Dan sebagai tanggapan atas penolakan penolakan ini, pihak berwenang Inggis telah memberikan pernyataan tidak akan mengambil 'risiko' ini.

PENDAPAT SAYA ORANG AWAM: TERLALU KEJAM.

kalau di baca dari referensinya, praktiknya sih akan seperti ini: Yakni dengan mengorbankan lebih separoh populasi penduduk demi untuk mendapatkan kekebalan pada generasi berikutnya. Itulah sebabnya Cina mencela keras hal tersebut dan menyebutnya sebagai "mempraktikan Darwinisme terhadap manusia". Berkaca dari kasus pandemik flu di Spanyol di tahun 1918 menimbulkan korban paling besar, karena ketika di gelombang pertama hanya sedikit orang yang memiliki kekebalan. Hanya pada generasi berikutnya terbentuk kekebalan tersebut.

Sangat jelas jika hal tersebut di praktikan, korban pada kasus virus corona pada orang orang berusia tua generasi pertama tidak akan dapat di hindari. Hal ini akan mendatangkan gelombang kejut berupa dampak sosial yang tidak kecil: Satu generasi anak anak yang mungkin selamat akan  kehilangan tumpuan hidup: Kehilangan cinta dari orang orang tua yang telah pergi. Dunia akan terluka sangat lama.

Disamping Cina yang dengan tegas menolak ide tersebut, itu pula sebabnya Jepang tampak memasang wajah sangat keberatan.

Karena Jika usaha Cina di Wuhan tampak memberikan hasil mengapa memilih praktik yang tampak sangat tidak manusiawi itu? Mengapa tidak memilih cara yang sudah terbukti sukses seperti di tunjukan di Korea Selatan dan Jepang?

Karena saya bukan ahli virus samasekali saya berfikir untung dan ruginya saja dengan sedikit seuzon, saya berharap pemerintah Indonesia tidak akan menerapkan teori 'kekebalan massal' ini yang secara teoritis memang saya akui tampak masuk akal.

Apalagi jika idenya berasal dari benua biru yang maju tempat teori Darwin di lahirkan, akan lebih banyak terlontar ide gila dari manusia untuk mengontrol dan meminimalisir jumlah populasi manusia dengan meminjam bencana wabah ini.

Karena tidak akan berlaku hukum jangka panjang yang berimplikasi terhadap manusia pengambil keputusan seperti kejahatan perang, pembantaian dan ide keluarga berencana. Siapa juga yang akan dijatuhi hukuman karena 'tidak berdaya' dalam mengatasi wabah, bukan?

Ketika wabah flu membunuh jutaan orang seratus tahun lalu di Spanyol dan dengan cepat menjangikiti dunia, puluhan juta orang meninggal, harus diakui, dunia menjadi bersih dari polusi  pada waktu itu, populasi menjadi 'longgar' untuk sementara. Dunia seolah dapat bernafas lebih longgar setelahnya.

Dan tidak ada tuntutan PBB untuk kejahatan 'pembantaian' umat manusia atas tuduhan 'menghilangkan' nyawa manusia. Generasi baru lahir dengan sistem kekebalan tubuh yang baru. Seolah dengan cara demikian alam memperbaiki kesalahannya. Yakni membuang yang lebih lemah (teori Darwin - seleksi Alam) dan membiarkan hidup yang dapat bertahan.

Sejauh ini wabah serupa corona (pademi) memang tercatat dalam rentang setiap seratus tahun dan dalam rentang waktu tersebut tampaknya selalu menemukan siklusnya.

Akan tetapi, lihatlah betapa putus asanya wajah Eropa pada saat ini. Mereka tidak yakin dapat menerapkan apa yang telah di praktikan oleh negara Asia seperti Cina.

Sebagai negara negara yang tergabung dalam ikatan NATO mereka tidak berdaya dan hanya membiarkan Cina dan Russia mengirimkan bantuan dengan armada militer mereka memasuki Italia. Yakni dua negara yang selama ini adalah "Musuh-musuh tradisional" mereka semenjak perang dunia kedua.

Sedangkan terkait dengan gagasan 'kekebalan massal' saya sangat keberatan karena:
  • Seperti berjudi dengan nyawa manusia, bagaimana jika teori itu gagal? Bukankah sama saja dengan membiarkan rakyat terbunuh satu demi satu tanpa berbuat apa apa alias membiarkan saja?
  • Sebagai orang awam saya kuatir bahwa virus corona membawa fitur fitur tersembunyi yang belum sepenuhnya kita pelajari. Jika kemampuan mereka beradaptasi, bermutasi dan berkembang melebihi kemampuan manusia dalam membangun imunitas secara alami (seperti tersirat dalam gagasan kekebalan massal) bukankah manusia akan pacundang karena mengambil risiko ini?
  • Jika cara cara yang telah ada dan telah dilakukan seperti yang telah di terapkan di Wuhan oleh Cina dan cara yang dilakukan oleh Jepang dan Korea terbukti berhasil, mengapa memilih cara ketiga dan membiarkan manusia terinfeksi dengan sengaja demi menemukan mimpi kekebalan massal?
  • Cara diatas berlawanan dengan cara menemukan vaksin pembunuh corona. 
Well seperti contoh di Cina terkadang contoh sebuah pemerintahan yang sukses tidak harus otoriter, demokratis atau otokratis. Semua itu hanyalah bentuk dan model yang telah ada, semuanya pernah sukses. Sejarah mencatatnya dengan adil, tidak ada yang pernah menjadi lebih baik daripada yang lain.

Pada kasus Cina pemerintah bertindak seperti seorang ayah yang tegas dan menghukum anak anaknya untuk mematuhi perintah mereka demi kebaikan di masa yang akan datang. Pada kasus Eropa pemerintah berperilaku seperti seorang teman yang sungkan menerapkan aturan kepada teman temannya...Bayangkan, dunia tanpa warna, jadi sesungguhnya baik dan buruk itu terpulang pada penempatan-nya....

Niat Indonesia meloggarkan PSBB...?
Presiden sangat perduli dengan masa depan bangsa ini. Ia begitu kuatir negara kita bangkrut karena PSBB apalagi. Well done.

Lalu ketika pelonggaran PSBB semakin mengemuka banyak kalangan mulai resah. Dan mereka tidak lagi dapat melihat batas pelonggaran PSBB dengan niat 'pembiaran' alias pemerintah memang sedang mencoba memberlakukan teori 'HERD IMMUNITY' kepada masyarakat Indonesia. Seperti yang saya jelaskan di atas berdasarkan informasi yang telah berkembang, herd immunity berarti membiarkan orang orang terpapar virus ini. 

Yang kuat dan telah memiliki kekebalan akan bertahan, yang tidak kuat harus mengucapkan 'Selamat Jalan' dalam kesakitan. Begitulah kira kira kasarnya. Saya tahu persis akan ada pihak yang berkepentingan membantah dan bermain kata kata terhadap isu ini. 

Namun ada hal positif yang terlihat di pangkal isu ini, namun fatal bagi kelangsungan hidup satu generasi yang terpapar covid 19.
  1. Pemerintah mengakui tidak bisa 'memberi makan' kepada seluruh rakyat Indonesia jika PSBB di berlakukan lebih lama lagi apalagi memberlakukan lockdown.
  2. Pemerintah ingin agar kita hidup normal baru: Biasakan pakai masker, biasakan social distancing, cuci tangan dan hidup sehat.
  3. Pemerintah lebih mengutamakan bisnis, dan melanjutkan program pembangunan ketimbang menundanya lebih lama lagi.
  4. Sampai saat ini antivirus belum ditemukan.
Jangan sampai niat pemerintah melonggar PSBB adalah wujud dari penerapan Herd Immunity yang tidak berperi kemanusiaan itu. Pemerintah melalui presiden telah memberikan pernyataan ini: Masyarakat harus berdamai dengan covid 19, ketika pertanyaannya menjadi liar dari istana muncul klarisifikasi, berdamai dan hidup normal versi baru.

Bagaimana kita menerapkan 'hidup normal baru' yang di lontarkan oleh istana? 

Yang paling masuk akal adalah:
  • Biarpun berada di luar rumah tetap jaga jarak dengan orang lain, biasakanlah itu menjadi budaya baru.
  • Biarpun berada di luar rumah pakai selalu masker, biasakan itu sampai menjadi budaya.
  • Biarpun di luar rumah selalu mencuci tangan bersih bersih dan biarkan itu menjadi kebiasaan baru kita selamanya.
  • Hidup sehat cukup tidur, cukup asupan makanan (yang terakhir sungguh tidak realistis karena orang banyak hidup dalam kekurangan)
OK, ok. ok ...Kita harus mengerti Pemerintah juga sedang kesulitan mencari cara untuk mengatasi pademi ini, dan hingga saat ini ide berdamai dengan covid 19 adalah solusi terbaik yang mungkin dapat di lakukan dan solusi ini tampak menguntungkan kedua belah pihak:
  1. Menguntungkan bagi manusia yang kembali normal dan beraktifitas walau dengan risiko lebih besar menjadi korban.
  2. Menguntungkan bagi kelanjutan hidup virus ini terutama di negara kita. Menungkinkan mereka bermutasi lebih maju dan lebih kuat lagi di masa depan.
Tapi coba sepertinya kita mengabaikan pilihan lain dan bereksprimen dengan percobaan berikut itu dan menjadikan hampir 200 juta jiwa populasi kita sebagai kelinci percobaan herd immunity. Namun sekali lagi, segala pilihan tampak buruk sekarang. Setelah ini segalanya akan berubah menjadi: NEVER BE THE SAME AGAIN.



SHARE YA...

Komentar

  1. Hado, mumet gan. Ya pokoknya kita laku'in aja yang jadi bagian kita, yaitu cukup di rumah aja, ga kemana-mana kecuali kalo ada yang bener-bener urgent. Udah, itu sangat cukup membantu memutus rantai penularan.

    Mari kita berdoa biar Covid-19 ini cepet berakhir dan everything will be okay :).

    Salam kenal ya! :D

    BalasHapus
  2. sekarang herd imunity pake kata yang lebih halus tapi sekilas prakteknya sama

    BalasHapus
  3. Aku sih mendingan WFH aja deh dan beneran gak kemana-mana kalau gak perlu-perlu amat. Serem... :(

    BalasHapus
  4. Hem... secara teori memang pemerintah tidak mengambil langkah herd immunity, secara formal pun tidak. Pemerintah akan dicap kejam kepada rakyatnya dan tidak berperikemanusiaan. Tidak sesuai dengan Pancasila.

    Sayangnya, pemakaian PSBB dibandingkan Karantina, kemudian PSBB dilonggarkan, kesan yang timbul dalam masyarakat adalah pemerintah mementingkan perekonomian dibandingkan kesehatan rakyatnya. Tentu saja, tidak bisa dipandang sebagai hitam putih saja karena kalau perekonomian hancur, korban yang jatuh pun bisa sama banyaknya.

    Banyak anggota masyarakat yang menilai langkah pemerintah lebih mendekati herd immunity, dan itu tidak terhindarkan mengingat langkah-langkah yang mengedepankan ekonomi dibandingkan kesehatan.

    Tidak bisa disalahkan juga masyarakat karena mereka berhak menilai dan sejauh ini pemerintah seperti ragu untuk mengambil langkah (tentu dimaklumi tingkat kesulitannya, karena situasinya memang menghadirkan dilema). Kesehatan mau, ekonomi mau, padahal langkah tersebut bisa dikata utopia, tidak akan bisa teraih dua-duanya, apalagi dengan tingkat kedisiplinan masyarakat yang sangat rendah dalam hal ini.

    Herd immunity sendiri juga adalah utopia dan hanya ada dalam buku teori. Tidak akan pernah ada pemerintah negara manapun di zaman sekarang yang mau mengakui bahwa mereka menerapkan sistem ini. Hal itu akan membuat pemerintah dianggap kejam dan melanggar konstitusi, tetapi tidak bisa diabaikan juga bahwa sangat mungkin mereka sudah tahu bahwa korban akan jatuh dengan langkah pelonggaran yang mereka ambil.

    Cuma mereka juga sepertinya menjaga bahwa korban jangan sampai terlalu banyak yang pada akhirnya akan menimbulkan reaksi keras dari rakyatnya sendiri.

    Itu pandangan saya saja ya mas...

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan berkomentar