7 MAKHLUK YANG PALING SETIA KEPADA PASANGAN HIDUP

Manusia secara alami terbukti bukan makhluk monogami dan dalam hal kesetiaan tanpa pamrih terhadap pasangan tidak salah jika alam ini melabeli manusia sebagai spieses makhluk poligami. Karena dalam hal kesetiaan terhadap pasangan hidupnya, Manusia memiliki reputasi buruk. 

Manusia memiliki ambisi dan hasrat yang sulit di sembunyikan termasuk kehendak akan superioritas individu mereka terhadap pasangannya sendiri. Manusia tidak pernah di "desain" oleh alam untuk setia kepada pasangannya. Kawin dan bercerai adalah hal yang biasa.
manusia makhluk tidak setia pada pasangan
Ilustrasi pasangan manusia

Kesakralan akan kesetiaan dikalangan spiesis manusia terlihat begitu absurd, lemah dan tidak terbukti jika yang dimaksud dengan kesetiaan itu adalah bertahan hidup hanya dengan satu pasangan. Memang ada nilai, kultur dan ajaran agama tertentu mencoba membatasi liarnya fantasi dan ego manusia dengan aturan aturannya, akan tetapi kebanyakan hal itu hanya berlaku sebatas fisik, beberapa kelompok malah terjerumus ke dalam perselingkuhan dan prostitusi terselubung yang rapi dan legal.

Manusia memang sulit dikekang dan dibatasi. 

Tidak jelas apakah itu juga karena manusia memiliki kehendak lebih bebas daripada spiesis makhluk lain. Lebih cerdas, lebih intelijen dan lebih mudah mengkesampingkan perasaan cinta dengan tindakan logis.

Mari lupakan manusia dengan kesetiaannya yang mengecewakan. Mari mengintip dunia spiesis hewan. 

1. Angsa: CINTA PERTAMA DAN YANG TERAKHIR
angsa hidup sampai mati bersama pasangannya 
Bahkan ketika pasangannya mati, terkadang angsa jantan akan mengusir angsa betina lain yang mendekatinya. Dia memilih mati dalam kesendirian sepanjang sisa hidupnya. Hanya ada satu atau dua cerita diantara semilyar spiesis manusia terdapat kisah kesetiaan yang dapat menyamai spiesis angsa dalam hal kesetiaan. Namun hanya ada satu atau dua cerita dalam sejuta.

Kata pemiliknya, butuh kesabaran yang luarbiasa untuk mengembalikan kepercayaan seekor Angsa yang telah kehilangan pasangan agar mau menempuh hidup baru dan kembali berenang bersama pasangan hidup yang baru di kolam kebahagiaan.

Sebabnya itu terjadi mungkin karena di dalam ingatan jangka panjang seekor angsa selalu merasa pasangannya masih hidup dan hanya sedang pergi ke suatu tempat. Mungkin ia merasa pasangannya akan kembali kepadanya dan mereka akan berjalan dan berenang lagi bersamanya. Atau mungkin mereka tidak merasa pasangannya telah tiada. Itu terlihat dari tingkah seekor angsa yang telah ditinggal oleh pasangannya, ia tetap bersuara: Memanggil, mengajak, mencari makanan dan menoleh seolah sedang memberikan makanan kepada yang lain.

Kita menyebutnya sebagai manipulatif. Dan perasaan masih berpasangan tidak dapat lepas atau hilang begitu saja bersama atribut ketergantungan akan kebersamaan yang telah terjalin selama ini, dan perasaan perasaan 'bahagia' lainnya. Tentu saja hal ini berbeda kondisinya dengan manusia yang kesedihannya setelah di tinggalkan pasangan akan di kontrol oleh kecerdasan dan keseimbangan antara kesadaran super kognitif, perasaan dan berlogika. Kekuatan fitur fitur kemakhlukan yang terpasang pada kondisi biologis kita berbeda dengan mereka dan kebutuhan alam menjerat dan memanipulasi perasaan cinta berbeda beda terhadap spiesis-spesis yang berbeda.

Kita dapat menyebutnya sebagai : skenario Alam. 

Ya tidak salah lagi pasangan Angsa telah menjadi salah satu simbol romantisnya percintaan yang abadi. Paling tidak hal itu telah berlangsung hingga ke akhir hayat mereka. Tetapi kita tidak juga harus berkecil hati terhadap ketidak sempurnaan kita, karena kita semua tidak lebih hanyalah sebuah kesatuan mesin alam semesta paling tidak untuk sementara kita adalah bagian dari mekanisme kehidupan biologis di permukaan planet ini.

Kalau bisa memilih untuk hidup bersama tentu saya...ya, saya memilih spiesis angsa. Tapi hidup adalah pilihan jangka panjang. Percaya atau tidak percaya mereka semua adalah takdir kita juga dalam perjalanan evolusi kemakhlukan yang panjang. Kita tentu tidak dapat menyimpan ingatan jangka panjang kita di dalam lautan entropi kata kata dimana semua makhluk berasal. Dari KATA. 

Dimana kita adalah bagian dari lautan entropi kata demi kata di dalam kehidupan ini. Saya ingin membahas ini dalam ide tulisan lain: Takdir, intelijensia, kesadaran dan ingatan kita dan posisinya di Alam Semesta. 

2. Buaya. KESETIAAN TANPA PAMRIH
tanpa perlu menunjukannya buaya adalah makhluk paling setia kepada pasangannya 
Mungkin kita harus mengkaji ulang kesalahan kita karena membuat simbol lelaki manusia dengan spiesis hewan buaya darat. Soalnya itu berkonotasi negetif dan tidak menggambarkan hal sebenarnya perihal perlakuan spiesis buaya terhadap pasangannya.

Faktanya setelah melakukan penyelidikan selama berpuluh puluh tahun, para ahli menemukan buaya tidak ada sama samanya dengan lelaki spiesis manusia yang 'mata' keranjang alias berhidung belang seperti yang di gambarkan oleh hewan yang bernama spiesis Manusia itu sendiri.  

Memang faktanya sungguh berbeda: Buaya adalah jenis spiesis yang paling setia terhadap pasangannya! 

Kalau manusia ingin melambangkan ketidak setiaan dan penghianatan cinta asmara, maka mengalamatkan simbol itu kepada spiesis buaya adalah salah besar. Itu fitnah. Manusia tidak dapat disamakan dengan buaya dalam hal kesetiaan. Buaya tidak pernah membohongi pasangannya apalagi berselingkuh dan menjadi pelakor.

Buaya tidak butuh atribut kecantikan dengan standar manusia. 

Abu abu, lalu gelap, hitam dan putih adalah dunia yang paling indah dalam kesadaran dan romantisme kehidupan spiesis mereka.

Mereka tidak melihat warna warni. Tidak ada jingga dan lembayung, tidak ada magenta dan indigo. Tapi mereka memiliki rasa yang peka terhadap degupan jantung dan detakan nadi. Mereka mampu merasakan dan membedakan tetes hujan yang paling lemah saat jatuh dan bercampur kedalam kubangan sungai yang berlumpur.  

Mereka melihat dan merasakan hentakan mangsa yang terjatuh dan meluncur cepat untuk menangkap rejeki mereka. Mereka berhak untuk mempertahankan kelanjutan hidup dan spiesis mereka. 

Mereka tidak butuh warna warni pelangi atau kelembutan sutra dan beludru. Mereka hidup untuk menghidu bau darah dilumpur dan selimut air yang melunturkan pekatnya debu di kulit mereka. 

Mereka berada di dunia mereka sendiri, bukan di dalam kamar dan tempat tidur kita. Kebahagiaan mereka bukan di tempat pesta manusia, mereka tidak akan pernah memahami itu. 

Dan ketika bertemu pasangannya mereka merasakan kehangatan ampifibi berdarah dingin, denyutan nadi dan gerakan erotik yang menghentak. Mereka terpanggil oleh keabadian sesaat yang sama dirasakan oleh manusia walau dengan cara berbeda. 

Buaya jantan dan betina selalu menemukan kembali pasangan hidup pertama mereka walau berjauhan pada musim kawin, tidak pernah buaya laki dan buaya betina salah pasangan. Mereka selalu mengenali pasangan mereka dalam kondisi sesulit apapun dari gerakan gerakan erotik itu. 

Seharusnya menurut saya: Buaya adalah lambang cinta pertama dan terakhir yang sangat mengagumkan. Buaya Tidak pernah menangis mengemis cinta kepada wanita atau lelaki spisies buaya lain seperti di gambarkan oleh manusia selama ini. 

Hanya karena tampilan spiesis buaya tidak seanggun angsa dan merpati, kita tidak dapat mengabaikan fakta yang sebenarnya: Kita tidak suka biaya. 

Jadi.. Stop memfitnah buaya!

3. Elang Laut : TANGGUNG JAWAB DAN KESETIAAN
Sang elang yang sangat setia dan melindungi pasangannya 

Bukan hanya pasangan setia, spiesis hewan unggas ini adalah pasangan keluarga atau ayah bunda yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya. Sangat mengharukan pengorbanan ayah dan ibu seekor elang dalam membesarkan anak anak mereka. Ia mencari makan untuk pasangannya dan menyuapinya di sarangnya pada saat sang betina sedang mengerami telurnya. Dia seolah tidak ingin kehilangan pasangan hidupnya tersebut.

Si ibu pula rela kehilangan bulu bulunya untuk dijadikan alas bayi bayinya dan selama itu dia tidak bisa terbang, si ayah dengan dengan rajin mencari makan. 

Alam menjerat mereka dengan ikatan dan manipulasi cinta. Karena cinta sangat menipu mereka rela berkorban demi tujuan yang tidak mereka sadari: melanjutkan masa depan spiesis mereka agar tidak segera punah!  Nah dalam hal ini manusia tidak akan ada bedanya. 

Kita di jerat oleh sebuah perasaan yang paling manipulatif : C I N T A  dan kita rela berjuang untuk itu mengorbankan lebih separoh hidup kita untuk menjadi orang tua. Alam mengarahkan kita untuk tetap menyemai benih kehidupan : Mempertahankan keragaman spiesis kehidupan dan menjadi cerdas untuk mengurus diri kita sendiri. 

Lalu ketika tiba saatnya mendidik anak anaknya agar menjadi kuat dan mandiri, si ibu dengan serius melatih terbang anak anaknya yang cengeng dengan menjatuhkan mereka berkali kali dari ketinggian lalu menangkap mereka kembali dari bawah.

Benar benar sebuah usaha yang keras dan penuh pengorbanan. Dan ketika anak anak mereka pergi meninggalkan mereka untuk hidup mandiri bersama pasangan masing masing pelajaran pelajaran itu diturunkan kembali kepada keturunan mereka dari generasi ke generasi sepanjang masa.

Lalu ayah dan bunda bersama sama lagi mengarungi kerasnya kehidupan. Ketika salah satu dari mereka mati, pasangan yang lain biasanya akan menyusul karena sudah tidak punya gairah untuk hidup lebih lama.

Dan jika mereka menemukan pasangan hidup baru biasanya mereka akan bertahan hidup dengan usia yang lebih panjang.

4. Serigala: KETULUSAN CINTA, TOLERANSI TERHADAP PASANGAN HIDUP
Serigala yang setia dan sangat melindungi keluarganya 

Bukan hanya setia terhadap pasangan hidupnya serigala jantan adalah contoh kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab.

Tentu saja kita terkadang salah dalam memandang kehidupan para serigala baik secara kelompok maupun individu. Sebagai kelompok mereka sangat kompak, setia kawan dan efektif. Sebagai individu serigala adalah makhluk yang memiliki komitmen dan pendirian yang kuat. Adalah salah juga jika menganggap mereka benar benar sebagai simbol kejahatan walaupun dikalangan manusia terdapat pepatah: "Bagaikan serigala berbulu domba"

Saya tidak sedang membela kaum atau spiesis srigala ya....akan tetapi hanya mencoba melihat segala sesuatu dengan lebih adil. 

Misalnya para ahli telah mempelajari jika seekor betina serigala yang menjadi pasangannya memutuskan untuk memelihara dan melindungi seorang bayi manusia akibat kuatnya naluri keibuan dan cinta kasih terhadap sesama makhluk hidup diantara mereka dan akibat dari konsensus aneh insting dan naluri serigala terhadap manusia. Serigala jantan akan mengalah dan segera ikut melindungi bayi manusia tersebut dari segala marabahaya dan membesarkannya sampai dewasa.

Ini bukan semata mata karena adanya cerita fiksi, tetapi ini adalah fakta. Animal planet pernah menayangkan bagaimana seekor anak rusa mungil yang seharusnya menjadi mangsa para serigala dipertahankan oleh betina serigala, awalnya Jantan pasangan serigala betina nampak marah karena tidak setuju dan tahu betapa beratnya risiko yang harus mereka terima di tengah kelompok. Tetapi dia memilih membela betina pasangannya mati matian. Dan dia berhasil, kelompoknya membiarkan mereka membesarkan bayi anak rusa itu hingga dewasa. Kisah ini tidak berlanjut.

Seekor serigala jantan walau tegas, namun sangat mengalah terhadap keinginan pasangannya. Begitu juga sebaliknya seekor serigala betina amat sering menunjukan rasa hormat dan kasih sayang terhadap pasangan jantannya dia selalu nampak menjilati leher dan bulu bulu serigala jantan pada setiap kesempatan untuk membersihkan tubuh pasangannya.

5. Merpati KESETIAAN DAN ROMANTISME
Janji sehidup semati bersama pasangan hidupnya 

Jika burung burung artis yang suka bernyanyi menunjukan sifat berganti ganti pasangan tanpa komitmen kesetiaan, sebaliknya hampir sepanjang waktu dan hidupnya merpati melewati waktu bersama pasangannya.

Pasangan kedua makhluk ini bersikap saling mengasihi, saling memperhatikan, saling membuat pasangan merasa nyaman hidup bersamanya. Ketika mereka tua dan letih dan lalu mati seekor merpati jantan atau betina sangat sulit untuk dipasangkan dengan pasangan baru.

Mereka adalah lambang kesetiaan yang membuat setiap pasangan kekasih spiesis manusia yang hidup di atas dunia fana ini menjadi iri melihatnya.

6. Belangkas (Mimi) SETIA DAN POSESIF
kisah cinta belangkas Mimi yang selalu romantis 

Hewan laut ini bentuknya aneh badannya beruas layaknya kelabang. Yang sangat menarik adalah mereka senantiasa berjalan lambat di pantai berduaan dengan pasangannya.

Hewan ini amfibi. Sebenarnya hidup dan mencari makan di malam hari. Jika kita melihatnya berjalan disiang hari itu adalah karena musim kawin. Dia termasuk jenis kepiting berekor yang nasibnya sering berakhir didalam kuali makan di dapur rumah manusia. Kadang cinta dan kesetiaan mereka selalu berakhir demikian tragis. Berakhirnya kisah cinta di dalam perut manusia yang rakus.

Belangkas dalam hidup berpasangan tidak mengenal istilah poligami. Mereka makhluk dengan genetik yang ditakdirkan untuk monogami dalam berpasangan. Kita akan melihat pada saat bergerak dan berjalan pasangannya selalu menempelinya seolah bersifat sangat posesif. 

Pasangannya selalu menempelinya kemana saja mereka bergerak pergi di bawah bayang bayang matahari di pantai menuju senja...

Saya tidak mengatakan klaim saya benar dalam kisah romantis belangkas ini. Akan tetapi lihatlah mereka berajalan bersama, yang betina begitu posesif menempel kepada pasangannya. Dari sudut manusia saya iri. 

Terlepas campur tangan alam bahwa mereka harus (dipaksa) kawin, tidak terkecuali kita sebagai spiesis manusia, Mimi itu cantik. Dan mereka berhak menikmatinya. 

Namun kisah cinta itu tidak di tulis di dalam novel. Kisah cinta yang selalu berakhir sepi namun sarat mengandung makna kehidupan yang memiliki artian sejati.

7. Siamang: PENYAYANG YANG MENGUTAMAKAN KEBAHAGIAAN KELUARGA.
keluarga siamang
 
Diantara spiesis dikalangan hewan, siamang termasuk makhluk yang paling mendekati manusia dalam hal kecerdasan, bersosialisasi dan berempati terhadap sesama.

Namun sangat berbeda dengan manusia siamang tidak pernah berpoligami, mereka menganut faham monogami tanpa pamrih. Saling mencintai pasangannya tanpa syarat.

Jika mereka telah menemukan pasangan hidup, maka seumur hidup mereka akan selalu bersama, saling mengurus satu sama dengan yang lain, saling mengasihi dan melindungi. Mereka juga akan menjadi pasangan yang baik untuk mengurus keluarga.

Sang ayah dan sang ibu bergantian mengurus anaknya, tidak ada iri dalam pembagian tugas. Anak anak itu tetap akan menjadi sahabat dan keluarga pada saat mereka dewasa dan kedua orangtuanya sudah tua. Kelompok sosial itu akan hidup saling bergantung satu dengan yang lain. 

Terlepas dari semua itu pokoknya para siamang adalah makhluk yang menggemaskan, lucu dan sangat tulus dalam berpasangan. Mereka memiliki atribut atribut biologis - relatif nyaris mirip dengan kita manusia: Kecerdasan, bentuk dasar biologis, kehidupan sosial dan prilaku kesadaran yang kognitif.

Nah itu dia 7 spiesis hewan di luar manusia yang sangat unggul dalam hal kesetiaan. Manusia adalah makhluk poligami, genetika kita telah membuktikannya secara ilmiah. Jikapun ada manusia yang tidak pernah berfikir berganti pasangan, itu sangat langka dan ajaib.

Kami berharap kita dapat menghargai kehidupan dengan cara memahami kehidupan makhluk lain, memahami betapa kita harus menghormati dunia mereka. Membantu menyelamatkan ras dan spiesis mereka. Ya,  agar kita tidak sendirian di alam semata ini. Agar kita tidak pernah merasa kesepian. 

TEMPAT KITA MANUSIA: ADA APA DENGAN NALURI YANG BERNAMA   C I N T A ?

Mungkin cerita diatas tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya dari mekanisme mesin alam terutama dalam memanipulasi spiesis spiesis makhluk biologis - termasuk manusia dengan fitur dan atribut CINTA ASMARA. Namun atribut dan fitur fitur yang terpasang untuk 'bereaksi' terhadap Cinta Asmara ini tidak sama di antara spiesis spiesis makhluk biologis.

Mungkin tidak demikian konsep alam semesta bekerja. Namun paling tidak kita memiliki gambaran bagaimana segalanya telah di rekayasa agar memenuhi konsep perencanaan. Misalnya dengan Cinta dan berahi kita di peralat untuk menyemaikan benih kehidupan di ladang kehidupan ini. Sebagai manusia kita memang memiliki keadaran super kognitif dan mampu memahami keberadaan diri kita dengan segala peristiwa yang terjadi, tetapi sebagai makhluk biologis 7 milyar manusia tetap memenuhi panggilan dan dorongan untuk kawin (di baca oleh manusia sebagai MENIKAH). Itu adalah rekayasa Alam semensta yang kita sebut sebagai naluri.

Namun jika kita kembali membahas perihal kesetiaan lelaki manusia tidak dapat dibandingkan dengan lelakinya buaya yang sangat setia, lelaki manusia selalu haus melihat wanita cantik, wajah wajah baru wanita cantik yang tidak ada dalam kehidupan mereka sebelumnya. Demikian juga wanitanya manusia tidak dapat disamakan dengan wanitanya buaya yang tidak pernah menjadi pelakor.

Lelakinya manusia sangat "jahat" dalam hal kesetiaan, bahkan wanitanya manusia juga memiliki genetika yang sama.

Itu adalah karena secara genetik manusia tidak di desain untuk setia kepada pasangan layaknya gen dari spiesis hewan hewan yang kita sebutkan diatas. Namun manusia menutupinya dengan etika, sistem nilai dan budaya yang mereka anut atau mereka sepakati. Jika kita setia kita akan dianggap baik, jika tidak kita akan terlihat jahat di mata yang lain, padahal secara insting manusia itu sebenarnya tidak demikian.

Jadi kalau yang dimaksud adalah lelaki manusia yang mata keranjang, sangatlah tidak adil menyamakannya dengan lelaki atau jantannya buaya yang setia.

Ada pepatah yang mengatakan: "Jika aku bilang aku cinta kamu, sesungguhnya aku hanya mencintai diriku sendiri"

"Dan tanpa bersalah apa apa aku telah membohongimu untuk jangka panjang, dan kamu juga membohongi aku dengan pesona dan perangkap alami kecantikan yang akan segera berakhir - karena setelah cairan kuning bernama cinta berhenti bergelora dalam jantung dan limpa, aku dan kamupun akan kehilangan daya tarik dan kita menjadi tua, cinta seperti pertama dulu sudah tidak ada lagi"

Hukum alam berjalan dan memerangkap kita dalam cinta asmara, kaidah itu berjalan hanya agar kita membuat keturunan agar spiesis kita dapat bertahan diantara persaingan evolusi, setelah hubungan berhasil, alam tidak melanjutkan lagi godaan rasa nikmat asmara segera berakhir, dan untuk selanjutnya manusialah yang harus mempertahankan atau mengakhirinya.

Sebenarnya tidak tampak seperti demikian. Sebenarnya 'secerdas' apapun manusia tetaplah dipaksa untuk menyemaikan atau 'menyetorkan' benih kehidupan spisesnya. Tidak ada yang dapat menahan itu walaupun kita memahaminya, walaupun kita memiliki kesadaran kognifif yang lebih kompleks dan lebih tinggi daripada hewan hewan lainnya. 

Sebagai manusia Kita memang tidak di desain untuk memiliki kesetiaan cinta. Kita hanya dituntut menggunakan seluruh sumberdaya inteligensia kita agar nampak berbeda dengan spiesis lain yang sama sama menjadi penghuni permukaan kerak bumi ini.

Tampak dari sudut ini cinta hanyalah fitur alam untuk memanipulasi kita agar membuat keturunan. Alam memang sedang membuat sebuah seleksi dan kita tidak dalam posisi untuk menentukan pilihan. Bayangkan karena Cinta itu kita rela menjadi orang tua, kita 'dipaksa' oleh naluri itu untuk mempertahankan hidup  yakni keturunan kita, berkorban tanpa pamrih. 

Lalu kita di buang dalam kematian. Fisik kita hancur di olah oleh alam di daur ulang hingga sampai menjadi bubur dan material dasar kembali untuk menjadi modal paling awal kehidupan ini. Walaupun hanya setetes asam, kita sesungguhnya sedang di daur ulang ke dalam pusaran lautan entropi kata: Kehidupan. Yakni sebagai material kehidupan yang lebih riuh di masa depan kita yang telah tiada. Bagaimana mungkin kita melepaskan estafet kehidupan di luar kesadaran diri kita sendiri dan menyerahkannya kepada permainan alam semesta ini?

Dan itu semua, hanya terasa sebagai sebuah skenario besar namun sederhana untuk mendorong kita membentuk ekosistem kehidupan. 

Sumber Artikel: www.editblogtema.net

SHARE YA...

Komentar

  1. Banyak banget reputasi buruk manusia, tidak dipungkiri juga kesetiaan terhadap pasangan.
    Bener banget, hewan-hewan ini selalu lengket satu sama lain, mestinya kita mencontoh "kebinatangan" mereka karena "kemanusiaan" kita sudah di dasar magma bumi..sedihh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh jadi tambah sedih huuuuu

      Hapus
    2. Itu hanya skenario alam, dan makhluk hidup melakoninya.

      Hapus

Posting Komentar

Silahkan berkomentar