Aku pernah hidup hanya separoh hati (bagian kedua)

Kuli bangunan

Suasana batam masa itu
Bersama saudara sepupuku kami menunggu "bos" datang, jelas dia membutuhkan kami. Dia adalah pemilik pekerjaan jasa borongan membangun perumahan. Hanya sebagai pemborong yang telah diberi kepercayaan untuk mewujudkan bangunan bangunan perumahan, ruko hingga rumah pribadi.

Selanjutnya kami diberi sebuah tempat tinggal dengan bangunan kayu bertingkat 2 yang dibawahnya berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan kerja dan alat alat pertukangan. Kami disediakan kamar dilantai dua sekaligus sebagai lantai teratas bangunan itu.

Tidak terlalu kokoh tapi sudah sangat lumayan buat kami menumpang berteduh dan tidur ketimbang menjadi seperti gelendangan. Tiga hari disini aku sudah melihat gelendangan dan orang gila di beberapa pasar dan jalanan.

Hari berikutnya adalah bekerja, ya membangun satu rumah mewah. Aku jadi lebih mengerti bahan bangunan lebih daripada sebelumnya, ada batako, semen, dan keramik. Karena dikampung masih umum orang membangun rumah dari bahan kayu.

Aku tidak berpengalaman tapi saudara sepupuku beberapa kali melakoni pekerjaan seperti ini bahkan diusianya yang masih sangat muda dibawah 17 tahun, kemiskinan hidup memaksa kami untuk bekerja apa saja untuk mengurangi beban hidup keluarga yang ditanggung oleh orang tua kami.

Aku masih beruntung bisa menamatkan SMA sedangkan mereka tidak dan dalam hal bekerja mereka lebih trampil daripadaku karena sudah terbiasa. Akhirnya mereka menjadi tukang batu, tukang keramik dan tukang cat yang cukup dapat diandalkan oleh bos kami, sedangkan aku walau dengan usia lebih tua, cukup menjadi pembantu.

Rasanya senang sekali ketika bulan berganti dan dilangit kota Batam nampak selalu cerah, gajian pertama aku membeli buku dan koran, yang pertama adalah buku tentang sains dan yang kedua adalah koran pos metro kota yang berisikan informasi lowongan pekerjaan.

Aku ingat yang paling banyak di iklankan adalah lowongan pekerjaan untuk wanita usia 18-25 tahun di kawasan Industri elektronik Muka Kuning.

Aku melihat saudara saudaraku tidak punya pilihan lain selain menekuni pekerjaan yang sudah ada. Namun mereka memiliki semangat yang lebih tinggi daripadaku. Dari cerita mereka, sebagian teman teman mereka sudah sukses jadi pemborong untuk bidang bidang pengecatan, pemagaran, dan keramik.

Menjadi pemborong berarti sudah separoh jadi pengusaha dan sudah terlihat sangat sukses dimata keluarga di kampung halaman. Pemilik pekerjaan borongan dapat merekrut dan mengupah orang yang sesuai dengan ketrampilannya, misalnya jika dia memborong pekerjaan pengecatan, maka dia akan merekrut tukang cat dan setelah perjanjian upah deal, pekerjaan dapat segera di mulai.

Di mess tempat kami tinggal ada pekerja lain yang telah lama direkrut oleh bos kami. Mereka keluarga kadang ayah dan ibu mereka juga datang dari pulau Bangka sana menjenguk anak mereka.

Salah seorang adalah gadis seusia nona mungkin sedikit lebih tuaan, namanya Hartini. Kami semua penghuni mess bangunan itu dapat saling mengenal secara alami tanpa harus berkenalan dan berjabatan tangan terlebih dahulu.

Aku dan dia sering kepergok ketika belanja di  warung yang berada persis di depan mess kami. Tentu saja saling melemparkan senyum  tanpa memperlihatkan gigi kami.

Kebetulan di warung itu ada penghuni yang menjadi pelayannya seorang gadis sebaya Hartini. Namanya Ros. Disana Ros membantu kakak kandungnya yang telah menikah dengan seorang satpam perumahan. Jika Hartini berkulit putih berasal dari bangka belitung dan fasih berbahasa cina kek, sebaliknya Ros adalah gadis melayu asli.

(bersambung)

Komentar