Aku pernah hidup hanya separoh hati (bagian keempat)

Antara aku dan Sana 
Tempat itu seolah berada di bibir tebing, tetapi sebenarnya hanya diketinggian bukit yang sedikit curam. Dan aku dan sana duduk berhadapan di sebuah meja kecil di sebuah restro yang agaknya memang sengaja dibangun disana. Tadinya dia mengajak saudara sepupunya tapi kemudian kami berpisah tempat makan, saudaranya itu suka makanan laut, Sana lebih suka makanan pedas.

Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak kuat makanan pedas pedas itu ikan Gurami bakar kesukaanku tapi dengan sambal pesanan Sana yang luarbiasa pedasnya. Sana makan sambil merunduk melihat ke buku komik manga yang selalu dia bawa dan tiba tiba mendekatkan wajah kewajahku yang juga sedang menunduk sambil menyendok makanan ke mulut. "Di kamu menangis...hi hi hi.." godanya "Apakah gerangan yang kamu sedihkan? Teringat si Dia yang jauh dimatakah?"
"Hhh, Aku tidak menangis, aku sedang makan sambal pesananmu yang luarbiasa kayak apa ini" kelitku.
"Tapi kulihat airmatamu...ciee"…